Martabak sebagai santapan bersama
Selain membuat produk yang unik dengan bahan berkualitas, Sonny juga menerapkan sistem pemesanan yang mudah bagi konsumen. Jauh sebelum peluang wirausaha dengan sistem pemesanan online berkembang pesat seperti sekarang, Sonny telah menggunakan layanan pesan antar di Martabak Orins.
“Konsumen kangen dengan Martabak Orins, cukup telepon ke toko. Tinggal duduk manis, pesanan segera tiba di lokasi yang diminta, dalam kondisi hangat dan rapi, seperti halnya membeli langsung,” ujarnya. “Apalagi sekarang, setelah ada Go-Food, membeli produk Martabak Orins jadi semakin mudah. Selain itu, review positif yang banyak dibagikan di media online, membuat merek ini semakin terkenal,” lanjut Sonny, yang telah berhasil membuka lebih dari 20 cabang di Jabodetabek.
Tren layanan pesan antar makanan secara online ini ikut memengaruhi desain outlet Martabak Orins. Mayoritas outletnya berukuran tidak seberapa besar, yang dirancang khusus untuk pembelian grab and go food dan pemesanan online. Selain itu, Sonny mengaku enggan membuka cabang di pusat perbelanjaan modern. Menurutnya hal itu tidak sesuai dengan konsep martabak sebagai hidangan komunal, yang bisa dibeli kapanpun dengan cepat dan tanpa ribet.
Sementara itu, jika melihat perbandingan jumlah pembeli langsung dan konsumen online, Sonny mendapati komposisinya hampir seimbang. Namun, jika menganalisanya dari segi cakupan wilayah komersial, Martabak Orins akan memilih lokasi di sekitar perkantoran untuk pusat Jakarta, dan lokasi dengan lalu lintas padat di pinggiran ibu kota.
“Saya melihat konsumen di pusat kota biasanya membeli via layanan pesan antar untuk disantap bersama teman kantor, atau dijadikan hantaran ke mitra kerja, sehingga polanya akan gemuk di hari kerja,” terang Sonny. “Sebaliknya di pinggiran Jakarta, pembeli cenderung membeli langsung di tempat, dan menjadikannya sebagai camilan bersama keluarganya. Frekuensi penjualan tertinggi juga cenderung terjadi pada akhir pekan,” lanjutnya.




