Menekankan efesisensi
Adapun untuk luas outlet cabang, Sonny kembali menekankan efisiensi yang berfokus pada konsep grab and go food, sehingga tidak memerlukan ruangan besar. Cukup seluas satu unit ruko, sudah mencakup dapur racik, meja kasir, dan sedikit area tunggu.
Untuk operasional produksinya, pabrik sekaligus gudang Martabak Orins di Kedoya, Jakarta Barat, selalu menghabiskan rata-rata setengah ton tepung terigu untuk didistribusikan ke seluruh cabang di Jabodetabek. Itu belum termasuk puluhan kilo topping, dan juga sejumlah besar bahan untuk varian gurihnya.
Menariknya lagi, Sonny berani mengambil keputusan besar untuk mengembangkan bisnis Martabak Orins yang digelutinya. Dia memilih mengundurkan diri sebagai PNS di Kementerian Keuangan pada 2016, dan fokus “berjualan martabak” hingga sekarang.
“Saya ini tipe risk taker, tapi tetap penuh perhitungan. Saya bekerja sambil usaha martabak. Saya yakin keluar (dari pekerjaan) ketika tahu bahwa bisnis ini semakin berjalan mantap,” ungkap Sonny. Ekspansi cabang masih akan terus dilakukan oleh Sonny, dengan kemungkinan menjajal pasar di luar Jabodetabek, sekitar 3-6 gerai lagi.
“Saya harus jeli melihat peluang wirausaha, harus punya prospek jangka panjang,” jelasnya. Selain itu, tawaran memperluas usaha di mancanegara juga sempat menghampiri, namun hal itu belum berani diambil oleh Sonny karena beberapa hal. Dia mengaku butuh waktu untuk mempelajari pengadaan sumber daya manusia, pasokan bahan baku, dan juga perizinan yang berbeda dengan di Indonesia.




